LATAR BELAKANG

Komoditas pertanian merupakan andalan utama bangsa-bangsa di Nusantara selama ratusan tahun untuk menjaga kesejahteraan perekonomian. Dari bangsa maritim Austronesia yang menyebar ke seluruh perairan Nusantara dengan perahu kecil bercadik, Bangsa Indonesia berubah menjadi penguasa lautan dan trader internasional dengan memanfaatkan keahliah berlayar yang luar biasa dan ketersediaan komoditas pertanian yang sangat beragam dan melimpah. Bila pada masa lalu Bangsa Cina dan India dikenal sebagai trader barang industri kerajinan, seperti keramik dan produk tekstil, maka Bangsa Indonesia dikenal sebagai trader hasil bumi, seperti beras, lada, pala, dan cengkih, bahkan teripang dan sirip ikan hiu. Tanah vulkanik yang subur dengan iklim tropis yang cerah sepanjang tahun mendukung produksi berlimpah komoditas pertanian. Banyak kerajaan besar dibangun dari hasil perdagangan komoditas ini, seperti Sriwijaya, Singasari, Majapahit, dan Ternate. Namun, komoditas pertanian juga menjadi buah simalakama, dengan hadirnya para pedagang Eropa yang akhirnya berubah menjadi penjajah . Kehadiran bangsa Eropa telah menyebabkan produksi pertanian dilakukan lebih intensif dengan hadirnya perusahaan-perusahaan perkebunan swasta berskala besar dengan target pasar dunia. Peran yang semula diemban oleh kerajaan-kerajaan besar Nusantara.

Pada masa kini komoditas pertanian tetap menjadi barang perdagangan yang penting. Pada saat krisis moneter akhir tahun 1990an, komoditas pertanian menjadi salah satu penyelamat perekonomian nasional. Sayangnya, selama Indonesia merdeka politik pertanian relatif tidak berpihak kepada rakyat kebanyakan dan tidak memberikan luaran yang mensejahterakan petani. Sumberdaya alam yang melimpah dan jumlah penduduk yang banyak, dimana hampir separuh populasi terkait dengan proses produksi pertanian, tidak dapat diarahkan untuk menghasilkan produk pertanian yang unggul dan mencukupi. Untuk sekedar memenuhi bahan pangan pokok pun, Indonesia tidak dapat mengandalkan produk sendiri, misalnya beras, daging sapi, gula dan garam. Namun, tanah Indonesia tetaplah subur dan iklimnya sangat menjanjikan untuk menghasilkan produk-produk pertanian yang menguasai pasar dunia. Indonesia merupakan penghasil utama minyak sawit, kopi, kakao, dan lain-lain. Hilirisasi yang tepat dapat mendatangkan nilai tambah pada produk-produk tersebut. Masih banyak komoditas pertanian lain yang dapat dikembangkan di Indonesia, baik di darat maupun di laut. Revitalisasi produksi komoditas pertanian diharapkan dapat mengangkat perekonomian nasional dan menyebabkan bangsa Indonesia kembali menjadi pemain utama dalam perdagangan internasional sebagaimana pada masa kerajaan-kerajaan Nusantara.


TEMA:

Revitalisasi Produksi Komoditas Pertanian: Upaya Menjamin Kedaulatan Pangan dan Menjaga Ketersediaan Bahan Baku Industri

SUB-TEMA:
1. Keanekaragaman genetik
2. Keanekaragaman spesies
3. Keanekaragaman ekosistem
4. Etnobiologi
5. Ilmu dan Teknologi Hayati

Semua naskah yang berkaitan dengan subtema dapat dipresentasikan.


TEMPAT DAN WAKTU: [Perubahan lokasi]

GRAND INNA MUARA HOTEL PADANG, Jl. Gereja No.34, Belakang Tangsi, Padang Bar., Kota Padang, Sumatera Barat. Tel.: +62-751-35600
Sabtu, 23 April 2016
Pukul: 08.00-16.00 WIB

 

Keterangan:

Seminar Nasional MBI kembali dilaksanakan karena banyaknya permintaan dari anggota dan kolega, serta untuk menghargai perkembangan Bahasa Indonesia sebagai bahasa ilmu pengetahuan. Naskah-naskah berkualitas dari seminar nasional ini, yang telah mendapat persetujuan dari para reviewer dan editor akan diterbitkan pada jurnal Biodiversitas (terindeks Scopus) atau Nusantara Bioscience (terindeks Web of Science). Naskah lainnya akan diterbitkan pada Prosiding Seminar Nasional Masyarakat Biodiversitas Indonesia (PSNMBI), sementara naskah yang tidak berkualitas, tidak diterbitkan.