LATAR BELAKANG

Secara ekologi Provinsi Jawa Tengah merupakan kawasan yang unik karena menjadi batas ekosistem bagian barat Pulau Jawa yang basah dan bagian timur yang kering. Sebagai daerah ekoton, Jawa Tengah memiliki perwakilan habitat dan jenis-jenis biota dari Jawa bagian barat maupun timur. Gunung Lawu misalnya, merupakan batas paling timur sebaran alamiah pohon puspa, Schima wallichii, dari Jawa bagian barat dan kepulauan Nusantara bagian barat. Gunung ini sekaligus menjadi batas paling barat sebaran pohon cemara gunung, Casuarina junghuhniana dari Jawa bagian timur dan kepulauan Sunda Kecil (Nusa Tenggara).

 

Ekosistem alamiah di Jawa Tengah telah mengalami pengaruh manusia sejak ratusan tahun yang lalu, mengingat provinsi ini merupakan pusat peradaban manusia sejak dahulu kala. Kompleks percandian Hindu di Dataran Tinggi Dieng yang didirikan pada masa Kerajaan Kalingga, abad ke-6 M, merupakan bukti bahwa peradaban di Jawa Tengah pada saat itu sudah sangat maju, demikian pula dengan didirikannya Candi Budha Borobudur oleh Wangsa Syailendra pada abad ke-8. Pengaruh Kerajaan Hindu Mataram (Wangsa Sanjaya), sejaman dengan Wangsa Sailendra, yang mendirikan Candi Hindu Prambanan pada abad ke-9 M, juga sangat kuat. Sejarah peradaban manusia yang panjang menyebabkan sebagian besar ekosistem alamiah di Jawa Tengah telah diubah, sehingga provinsi ini dikenal sebagai rich garden, poor forest. Kawasan-kawasan terpencil pun ikut diolah, termasuk Dataran Tinggi Dieng, seperti tampak pada lukisan Plateau of Dieng oleh Junghuhn (1845), yang menunjukkan bahwa lahannya telah diolah kecuali di puncak-puncak bukit. Namun, Jawa Tengah masih menyisakan ekosistem hutan hujan tropis yang cukup terjaga, baik di dataran tinggi maupun di dataran rendah, seperti di kompleks pegunungan Dieng bagian utara dan barat serta Pulau Nusakambangan.

 

Menurut perkiraan BPS Jawa Tengah (2014), pada 2013 jumlah penduduk provinsi ini telah mencapai lebih dari 33,26 juta jiwa dengan kepadatan 1022 orang per km, umumnya berpendidikan rendah dan berpenghasilan menengah ke bawah, dimana sekitar sepertiga penduduknya berkerja sebagai buruh dan sepertiga lainnya petani kecil. Sementara itu jumlah angkatan kerja berpendidikan tinggi hanya mencapai sekitar 7%, namun karena berkelindannya berbagai masalah penyerapan angkatan kerja terdidik tersebut cukup rendah, bahkan di bidang tertentu hanya mencapai 10%. Sehingga, jumlah angkatan kerja yang merantau cukup besar. Peningkatan kualitas pendidikan barangkalli merupakan kata kuncinya. Di Jawa Tengah, hanya tercatat enam perguruan tinggi negeri (IAIN Walisongo, Undip, Unnes, Unsoed, UNS, dan UTM) dan hampir 250 PTS, namun hanya sekitar 20% PTS yang memiliki mahasiswa > 1000 orang, sementara sekitar 15% tidak memiliki mahasiswa sama sekali, menunjukkan lemahnya pengelolaan dan kemauan.

 

Peningkatan kualitas dan kuantitas pendidikan tampaknya merupakan jalan keluar untuk meningkatkan daya saing tenaga kerja dari Jawa Tengah. Telah terbukti bahwa negara-negara yang miskin sumber daya alam namun tenaga kerjanya terdidik dengan baik memilliki kemampuan untuk mensejahterakan rakyatnya. Telah terbukti pula bahwa hanya negara-negara maju yang dapat melindungi alam dan lingkungannya dari kerusakan. Hanya negara maju yang warganya tidak membuang sampah di sembarang tempat dan hanya negara maju yang sungai-sungainya bersih dari kotoran limbah

TEMA:
Science in Central Java: Peningkatan kualitas ilmu dan teknologi untuk kesejahteraan rakyat


TEMPAT DAN WAKTU:

Gedung LP2MP, Prof. Sudarto, SH, Kampus Undip Tembalang, Semarang.
Sabtu, 9 Mei 2015
Pukul: 08.00-16.00 WIB

CATATAN: Science in Central Java khusus mendiskusikan ide-ide baru atau hasil-hasil penelitian baru dalam bidang keanekaragaman hayati serta ilmu dan teknologi hayati yang berkembang di Provinsi Jawa Tengah, mencakup (i) penelitian lapangan dan laboratorium yang dilakukan di Jawa Tengah, (ii) material penelitian (sebagian atau seluruihnya) berasal dari Jawa Tengah, atau (iii) homebase peneliti di Jawa Tengah. Hal yang sama dari Provinsi D.I. Yogyakarta juga dapat diakomodasi. Sedangkan, naskah di luar itu akan dipublikasikan sebagai edisi tambahan.

 

---------------------------

Panitia dan Pengurus MBI mengucapkan terima kasih kepada segenap pihak yang telah berkontribusi atas terlaksananya seminar nasional ini. Panitia memohon maaf atas segala kekurangan yang terjadi, segala masukan akan diperhatikan demi perbaikan kegiatan berikutnya. Kiranya seminar nasional ini dapat terlaksana secara kontinyu, di berbegai kota. 

Kegiatan selanjurnya adalah:

> Seminar Nasional MBI, Kampus ITB Jatinangor, 13 Juni 2015. Laman kegiatan di sini.

Terimakasih.